Friday, 2 September 2016

Kelemahan Sistem Full Day School dan Diskursusnya terhadap Budaya Bangsa


   
Inspirasi Kita, Tulisan saya kali ini cukup serius gaes. Saya sarankan, sediakan es teh dan camilan agar tetap enjoy membacanya. Atau paling tidak melakukan gerakan merileks-kan badan merupakan ide bagus. Selamat membaca. Salam Inspirasi!!

Wacana sekolah seharian penuh (Full Day School) yang digagas oleh Kemendikud mendapat tanggapan pro dan kontra dari masyarakat meski sistem sekolah ini telah mendapat perhatian dari presiden.

Kalangan masyarakat yang menyatakan pro, ini merupakan terobosan apik dari pemerintah terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Sebab dengan adanya sistem tersebut jam belajar siswa relatif panjang di sekolahan. Ini membuat  kegiatan siswa akan lebih terpantau, serta mengarah ke kegiatan yang positif.
     
Sebaliknya, sebgian besar lagi masyarakat menolak  wacana sekolah seharian penuh. Dengan menambah intesitas waktu, tentu akan menyebabkan siswa kelelahan. Sehingga jam tambahan ini malah kurang efektif. Belum lagi masalah  kesiapan fasilitas sekolah serta guru yang minim pengalaman. Belum lagi sekolah-sekolah di daerah pedesaan.

tabloidsophia.com

Sekolah sehari penuh memang baru wacana yang digulirkan pemerintah. Mungkin saja direalisasikan, bisa juga  hanya sebuah langkah pemerintah untuk meminta pendapat publik saja. Perlu kajian yang lebih serius lagi untuk diterapkan, untuk mengetahui tepatkah diterapkan di Indonesia, berdasarkan aspek budaya, geografis, demografi dan kondisi ekonominya. Pemerintah tidak boleh mengadopsi sistem dari luar negeri kemudian langsung menerapkan di Indonesia.  

Mari kita cermati wacana Ful Day School ini. Seorang siswa harus belajar di sekolahan lebih panjang dari biasanya. Dari jam 07.00 hingga 17.00. Padahal secara keseluruhan sekolah-sekolah di Indonesia masih terpaku pada satu aspek akademik atau kognitif semata, sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan. Bukan pengetahuan yang bertambah, melainkan kejenuhan bahkan stress akan meningkat.
     
Hal ini menyalahi amanah Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang tujuan pendidikan nasional. “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakawa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis sert bertanggung jawab. Dengan kata lain, sisi-sisi lain peserta didik seperti afektif dan psikomotorik tidak boleh terbengkalai. Sedangkan peserta didik butuh dunia yang lebih luas guna mengembangkan potensinya.
     
www.dutadamai.id

Sepintas Full Day School dapat dikatagorikan sebagai implemenasi penidikan karakter yang sedang digiatkan oleh pemerintah. Bahkan sesuai dengan revolusi mentalnya Pak Jokowi. Sebab sistem sekolah seperti ini terlihat mampu meminimalisir anak dari aktivitas negatif, seperti bermain secara berlebihan, bersosialisasi dengan lingkungan yang kurang baik atau  bahkan melakukan tindak kriminal hingga terjebak seks dan narkoba.
     
Perlu kita amati dan cermati, bukankah bila anak seharian belajar di sekolahan justru akan mengurangi waktu bersosialisasi dengan lingkungannya. Kurang mampu mengembangkan skill yang dimilikinya. Bahkan dapat membunuh kreativitas anak. sebab hanya dihadapkan pada ruang dan waktu yang sama. Padahal karakter manusia terbentuk melalui ruang dan waktu yang tak terbatas. Apalagi bangsa kita merupakan bangsa timur. Masih memegang adat dan budaya yang bermacam-macam serta heterogen.

Diskursus terhadap Fungsi dan Budaya Bangsa  
Maka dari itu, perlu kita kembalikan lagi tujuan diadakannya sekolah sebagai penunjang pendidikan nasional. yakni mendidik manusia menuju kesmpurnaan. Menumbuh kembangkan potensi peserta didik baik itu aspek kognitif, psikomotorik atau pun afektif.

 nazarul14.files.wordpress.com
Dan tak boleh kita lupakan, sekolah bukan satu-satunya institusi pendidikan. Sekolah merupakan tempat pembekalan serta simulasi  peserta didik untuk menyongsong masa depan, membantu mengatasi problem kehidupan baik individu maupun sosial. Oleh sebab itu, keterlibatan peserta didik dalam lingkungan masyarakat luas sangat penting. Peserta didik merupakan subjek aktif  di dalam jejaring masyarakat, karena ia memiliki peran masing-masing yang tentu akan berakibat tidak baik bila terjadi perpisahan yang menyebabkan keterasingan peserta didik itu sendiri.
     
Di dalam masyarakat terdapat fungsi sosial dan keluarga, Sehingga kalau fungsi ini tercerabut, akan mengakibatkan dampak kurang baik bagi perkembangan peserta didik. Kedua fungsi ini mempunyai norma dan nilai-nilai tersendiri. Sekolah sebagai kompenen yang hadir di tengahnya justru harus mampu menjadi jembatan antara fungsi keluarga dan sosial bukan malah menyekatnya.
     
Untuk saat ini yang terpenting meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan yang mengacu pada amanat Undang-Undang yang berprinsip pancasila.  Berikanlah peserta didik porsi waktu untuk belajar pada fungsi keluarga dan sosial masyarakat. Sehingga terbentuklah sumber daya manusia yang beritegritas, beretos kerja, tetap melestarikan gotong-royong dan memahami budaya sebagai ciri khas bangsa Indonesia. Dan akhirnya memiliki karakter. Maka pemahaman pendidikan yang  holistik sangat diperlukan di sini.
     
Terakhir coba kita renungkan bagaimana induk ikan melatihnya untuk hidup di air. Induk ikan tidak pernah mengajarkan banyak hal untuk hidup di air, sebab air adalah habitat ikan itu sendiri.
    
Baca juga Teori-Teori Belajar!!


Sumber gambar sampul: Tempo.co
    

Saturday, 20 August 2016

Merokok Membunuhmu, Membunuh siapa sih Merokok Itu?

Kita sering melihat iklan di TV atau dikemasan rokok, “merokok membunuhmu.” Pertanyaannya, ini ditujukan kepada siapa? Fungsinya apa? Mengapa pernyataan itu dibuat? Mari kita sedikit rilekskan badan, semisal melakukan peregangan otot saat hendak membaca ini.

Merokok
Merokok merupakan kegiatan menghisap batang rokok setelah dibkar kemudian mengeluarkan asapnya. Itu menurut pendapat saya.

Polemik kenaikan harga rokok mulai terdengar keras saat pemerintah berencana menaikkan bea cukai baru-baru ini. Imbasnya rokok pun barang yang telah menjadi life style dierbagai kalangan masyarakat Indonesia pun harus naik. Kabar terakhir harga rokok perbungkus akan dinaikkan menjadi 50 ribu.

Kabar ini menjadi angin surga yang berhembus di kerontangnya kemarau bagi kalangan yang tak merokok dan tak suka rokok. Doa mereka agar para perokok berhenti merokok mendapat titik terang. Seperti penantian seorang jomblo yang selama ini berharap tebar pesonanya nyangkut di pohon cinta terjadi. Sebab perokok aktif dan perokok tak aktif  terkena efeknya.

Sebaliknya para perokok justru menanggapinya dengan santai. Walau ada beberapa ada yang mengumpat. Sebab rokok hampir-hampir sudah menjadi kebutuhan wajib setelah beras. Bahkan saya pernah mendengar celethukan dari salah seorang kawan perokok, “bagi saya lebih baik tak makan asal merokok.” Kesimpulan yang bisa ditarik di sini adalah saya pribadi bukan perokok, eh…. Tidak ada yang miskin untuk merokok.

Sebenarnya pro kontra mengenai rokok bukan menjadi persoalan baru di Indonesia.  Beberapa tahun yang lalu MUI menetapkan bahwa merokok itu haram. Isu tersebut mendapat sorotan dari berbagai kalangan, mulai ulama, paraktisi medis, pakar ekonomi, masyrakat biasa hingga kaum akademis. Hal itu tidak mengendurkan gairah perokok untuk berhenti merokok. Karena pada saat itu banyak yang suka dan setuju kalau hukumnya rokok itu makruh.

Sekarang isu itu muncul lagi, hanya kemasannya saja yang agak lain. Hehe. Jaman sekarang harus pandai-pandai membuat kemasan yang seksi. Walaupun itu tak berlaku pada Kreator Misalnya Mi Bikini (Bihun Kekinian) yang usahanya harus berhulu dan berurusan dengan kantor polisi, karena kemasan produknya mengndung pornografi menurut kepolisian bahkan ijin produksinya illegal.

Merokok Membunuhmu
Kesehatan menjadi alasan yang kuat untuk memuluskan kenaikan harga rokok selain pemasukan negara berambah dari bea cukai. Saya sebagai orang awam perihal dunia medis tak berniat ngeyel atau pekok bahwa jelas-jelas rokok tidak baik untuk kesehatan jantung, memicu kanker dan lainnya. Perlu dijelaskan tembakau bagian  mana yang berbahaya. 

Belum lagi urusan petani-petani tembakau. Semisal daya jual rokok turun drastis tentu akan membuat mereka gantung tangan. Seperti petani beras saat ini, kebetulan mbah saya mengeluh karena harga jual beras 1 kg cuma 7 ribu rupiah padahal di perkotaan bisa mencapai 10 ribu lebih. Belum lagi kalau padi mereka jual pada belantik, maka hargaya makin hancur-hancuran. Bahkan mereka semakin teraniaya karena kalah saing dengan beras impor.

Memang di sisi lain pembeli mendapatkan harga lebih murah. Di sisi lain ada golongan masyrakat yang tercekik, dialah petani. Mengingat biaya produksi sangat mahal. Mulai dari pupuk, air, obat-obatan, mekanisme produksi sangat mahal. Seharusnya regulasi harga pasar yang notabenenya dipegang pemerintah diatur ulang

Sialan Malah Curhat, gegara Mbah Saya Petani.
Petani tembakau tentu menjadi orang yang bingung. Belum tentu harga tembakau naik kalau harga rokok naik. Hukum produksi prusahaan adalah produksi sebesar-besarnya dan pengeluaran sekecil-kecilnya. Atau bila harga rokok naik dan benar-benar terjadi penurunan daya beli rokok lokal oleh masyarakat selain petani lagi yang pusing, pelaku produksi pun ikut pusing. Penurunan jumlah konsumen akan berimbas pada penurunan pendapatan perusahaan yang berakibat pemamangkasan biaya produksi. Ujung-ujungnya menyebabkan PHK masal. Masyarakat kecil yang kena getahnya lagi.

Pengangguran dan kesenjangan sosial akan menjadi musim ketiga setelah musim kemarau dan musim penghujan. Yah, saya berharap sih badai segera berlalu.

Mengacu pada rumus jomblo saling jatuh cinta, kayak lirik lagu “jatuh cinta berjuta rasanya”. Bahkan kata orang, kalau sedang jatuh cinta dunia serasa milik berdua yang lain ngontrak. Hehe. Tidak ada perokok yang miskin untuk merokok. Percayalah laki-laki perokok tidak lebih lebih panik ditolak cewek karena perokok daripada kenaikan harga rokok itu sendiri. Namun i’tikat baik untuk berhenti merokok adalah kebanggaan tersendiri. Toh masih ada kopi.

Entahlah, yang jelas merokok membunuhmu. Kalau kamu tanya balik, kamunya ini untuk siapa? Akan saya jawab, iya kamuu,...


Sumber gambar sampul: www.icp-capsule.com




Tuesday, 16 August 2016

Relasi antara Agama, Kemanusiaan dan Negara
   

Di Indonesia keberagaman merupakan kekuatan utama yang dimiliki bangsa. Tak terkecuali keberagaman dalam memeluk keyakinan. Masyarakat boleh memeluk agama sesuai keyakinan masing-masing. Kasus pembakaran dan perusakan tempat ibadah yang dilakukan oleh sekelompok orang di Tanjung Balai, Sumatra Utara, (29/7) merupakan tindakan yang menederai toleransi.

1.bp.blogspot.com/

Tragedi tersebut tentu menambah daftar panjang tindakan disitegrasi dan intoleransi yang terjadi di Indonesia. Setelah setahun lalu terjadi pula pembakaran tempat ibadah di Tolikara, Papua. Tentu selain merusak toleransi juga mencoreng nama Indonesia sebagai negara demokrasi. Pancasila yang menjadi dasar negara mengisyaratkan bila negara tidak hanya dimiliki oleh sekelompok agama, suku, ras, etnis maupun golongan tertentu melainkan berdiri di atas kesemuanya.

Perusakan tempat ibadah merupakan sebuah kejahatan. Tempat ibadah merupakan benda tak bernyawa yang tak bisa dijadikan sasaran kemarahan. Bahkan dalam situasi perang berkecamuk, tindakan tersebut tak dapat dibenarakan. Sama sekali agama manapun mengajarkan perpecahan. Justru hal ini jauh dari nilai-nilai agama dan nilai kemanuiaan.

Manusia yang memanusiakan


http://www.markijar.com

Sebagai makhluk yang paling mulia dan sempurna kedatangannya di muka bumi ini tentunya bukan tanpa sebab. Manusia adalah wakil Allah di bumi yang dikarunia akal budi serta hati. Berbeda dengan hewan yang hanya dibekali oleh Tuhan naluri semata. Bisa jadi saling memangsa, bahkan memangsa anaknya sendiri. Tak ada alasan mengelak untu tidak saling menhormati dan menghargai satu sama lain. Boleh jadi kulitnya beda hitam dan putih, rambutnya kriting dan lurus, bahasanya lain, suku, etnis, ras dan agamanya berbeda. Ada satu hal yang sangat esensial yang tak boleh dilupakan adalah mereka sama-sama manusia.

Manusia memiliki sebuah anugrah dari Allah untuk hidup di dunia ini. Sebuah hak untuk hidup yang bersifat egaliter dan universal. Hak asasi memeroleh kebebasan. Kebebasan sebagai manusia tentu tak tepat bila dieksploitasi berlebihan. Kebebasan manusia terbatas oleh kebebasan manusia lain

Penyegaran akan implementasi akan nilai-nilai humanisme kiranya perlu digencarkan. Bagaimanapun juga, kita tak akan menemukan persamaan dalam arti satu golongan secara mutlak di belahan dunia manapun. Sudah kodratnya manusia berbeda satu sama lain. Menurut Komaruddin Hidayat (1998:45), dalam hidup beragama, orientasu kemanusiaan perlu mendapat apresiasi dan perhatian. Hikmah hidup beragama meurut Komararuuddin harus bermuara pada komitmen untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan tanpa harus dihantam oleh sentiment kelompok keagamaan

Gus Mus pernah menyatakan, beragama merupakan wasilah (sarana) untuk mencapai Tuhan. Semua umat beragama berusaha untuk menuju Tuhan. Seyogianya mereka saling menghargai dan menghormati pilihan masing sebagaimana mereka ingin dihargai.

Selanjutnya, Hal yang tak kalahh pentingnya yaitu memahami relasi antara negara dan agama. Negara Indonesia mempunyai ideologi pancasila. Bukan salah satu dari agama. Berarti ia melindungi segenap warga negara Indonesia itu sendiri. Dan agama dapat dijadikan prilaku sosial dalam berbangsa dan bernegara.

Peran Negara serta Dialogis Umat


bukubiruku.com

Maka peran negara dalam menjamin kerukunan umat beragama khususnya dan perbedaan secara luas pada umumnya sangat dibutuhkan. Mengingat otoritas utama roda pemerintahan dan keamanan terletak pada negara. Pencegahan isu-isu SARA dan penanaman wawasan keberagaman oleh negara pun sangat berguna. Agara masyarakat tidak mudah terprovokasi untuk saling  menyalahkan, bermusuhan bahkan saling menyerang.

Selain itu, dialog lintas agama yang telah berjalan agar lebih digiatkan. Tidak hanya kaku pada tahap formalitas saja. Implementasi dialog antar umat bisa menjadi prilaku sosial dalam kehidupn sehari-hari. Sebab dialog dan diskusi merupakan bentuk cerminan kerukunan dan keterbukaan untuk menemukan solusi juga kemesraan berdampingan antar umat.


Sumber gambar sampul: www.galeribudaya.com


Sunday, 26 June 2016

Puasa Ramadhan dan Menutup Warung Makan


Pada Ramadhan kali ini tentu ingatan kita masih lekat dengan  kasus ibu Saeni, seorang ibu pedagang makanan di Serang Banten beberapa hari yang lalu, Jumat, (10/6). Satpol PP merazia barang dagangannya hingga menyitanya tanpa ampun karena berjualan pada siang hari di bulan puasa.

Simpati masyarakat pun bergulir. Sumbangan dana yang dipelopori oleh Dwika Putra telah mencapai lebih dari 139 juta rupiah. Dwika mengatakan bila motifnya hanya karena tidak tega dan kasihan. Ini menggambarkan bila nurani dan toleransi di negeri ini masih hidup.

Islam Rahmat untuk Semua
Islam sendiri merupakan agama rahmat (cinta kasih). Nabi Muhammad diutus dimuka bumi bukan menjadi rahmat bagi kaum muslimin saja, melainkan bagi alam semesta. Sama halnya yang termaktub dalam Q.S Al-Anbiya ayat107, Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semetsta.         

Tentu pernyataan rahmat bagi alam semesta ini menjadi pembahasan yang menarik. Apakah itu sesama kaum muslimin, sesama manusia atau pun sesama makhluk ciptaan Tuhan. Kalau kita sudah sepakat demikian, kita tidak akan mau mengusik ketenangan orang lain hanya demi sepatah kata penghormatan.

www.liputan6.com

Menyuruh menutup warung di bulan puasa demi penghormatan sepihak terhadap suatu golongan adalah tindakan yang kurang tepat. Kita hidup berbangsa dan bernegara berdampingan dengan umat beragama lain yang tidak menjalankan ibadah puasa. Bahkan kaum muslimin sendiri ada yang tidak berkewajiban berpuasa, seperti anak-anak, orang sakit, musafir (orang yang bepergian jauh), perempuan haid, hingga perempuan menyusuhi.  Alangkah egoisnya kita, bila menyuruh orang yang tidak berkewajiban puasa untuk berpuasa.
          
Belum lagi para pedagang kecil yang sehari-hari menggantungkan nasibnya dari hasil dagangannya. Ibaratnya kalau hari ini tidak berjualan besoknya tidak bisa makan. Bila mereka dilarang berjualan apalagi barang dagangannya disita. Apalagi kalau tindakan penutupan itu dilegitimasi oleh aparatur negara.  

Pendangkalan Makna Puasa                  
Sebagai umat Nabi Muhammad seharusnya kita meneladani akhlak beliau yang tidak diskriminatif apalagi gila hormat. KH Ahmad Musthofa Bisri, seorang ulama muslim pernah meyatakan dalam tulisannya perihal penutupan warung di bulan Ramadhan. Begini kutipannya,“Apakah hanya pedagang-pedagang warung yang harus menghormati Ramadan dan mereka yang merusak tatanan justru bisa terus melenggang melecehkan kesucian Ramadan? Atau apakah sebenarnya maksud kita dengan penghormatan terhadap Ramadan itu?
        
Dari peryataan lewat pertanyaannya itu bisa dipetik tiga poin. Yang pertama, ketika warung-warung saja yang dipaksa tutup untuk menghormati Ramadhan, hal ini dipahami bahwa diskriminatif terhadap pedagang-pedagang. Karena sebenarnya esensi puasa Ramadhan justru lebih kepada seberapa tangguh insan muslim mengendalikan diriya. Meanahan nafsunya dari segala perbuatan tercela yang bias merusak puasanya. Bukan hanya sekedar menahan untuk tidak makan dan tidak minum.

Kedua  yakni pernyataan, mereka yang merusak tatanan justru bisa terus melenggang melecehkan kesucian Ramadan. Kalimat ini menegaskan kalau negara atau umat islam jangan hanya fokus pada yang sifatnya tampak diluar atau dangkal.  Sehingga orang-orang yang melakukan maksiat  serta melanggar aturan agama dan negara yang justru mencederai makna ramadhan bisa bergeak bebas.

lachi17.deviantart.com

Ketiga, apakah sebenarnya maksud kita dengan penghormatan terhadap Ramadan itu. Sudah benarkah logika kita melakukan penutupan warung demi menghormati bulan Ramadhan serta juga orang yang berpuasa. Atau mungkin itu hanya dalih kita (muslimin) yang minta dihormati. Padahal ibadah puasa merupakan ibadah yang samar dan jauh dari pamer apalagi ingin dihormati. Pertanyaan saya, bisakah Anda membedakan mana orang yang sedang berpuasa dan mana yang tidak?

Lebih jelasnya, mari kita pahami lagi makana puasa dari bahasa arab shoum berarti menahan. Di sini yang dimaksud menahan, yakni menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Bisa juga mengendalikan hawa nafsu kita. Oleh sebab itu, kalau logika berpuasa hanya dikaitkan dengan makan dan minum yang implikasinya berdampak pada kebijakan menutup warung. Makna puasa telah mengalami pendangkalan makna.
        
Saya pribadi mempunyai pengalaman. Namun bukan saat bulan Ramadhan. Suatu dini hari perut saya lapar sekali. Mau makan tetapi tak ada nasi yang tersisa. Mau beli makanan tapi tidak ada warung yang buka. Karena tempat tinggal saya di pedesaan yang sepi saat menginjak jam sembilan malam ke atas. Akhirnya saya putuskan untuk menahan lapar saya hingga pagi harinya ibu saya memasak nasi. Sungguh lapar sangat menyiksa saya waktu itu.  Padahal cuma beberapa jam saja.


Sumer gambar sampul www.borneonews.co.id

Friday, 27 May 2016

Cakap Bermedia Sosial, Menjadi Pengguna Media Sosial yang Santun dan Beretika

Inspirasi KIta.com - Cakap Bermedia Sosial, menjadi pengguna media sosial yang santun dan beretika . Dalam internet istilah jejaring sosial atau sering disebut media sosial merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Bahkan saking dekatnya, ia menjadi media sosial telah menjadi life style dan pandangan hidup kita, tanpa disadari. Kalau tak percaya, lihat saja pada diri kamu sendiri, bagaimana rasanya satu hari atau seminggu tanpa mengakses Medsos atau media sosial. Galau kan? Kalau iya, berarti media sosial sudah menjadi gaya hidupmu.  Beranjak dari sini, cakap bermedia sosial wajib dilakukan.

Atau semisal kita sering update status, upload foto dan sebagainya demi menuai jempol yang banyak dan komen-komen yang kita inginkan. Ini merupakan gangguan psikologis. Atau kita sering membaca ujaran kebencian dan informasi yang cenderung memicu perselisihan. Dan lagi-lagi, tanpa kita sadari hal seperti ini bisa membentuk mindset kita, yang berakibat pada pembentukan karakter. Sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh yang benar-benar nyata terjadi. Alangkah riskan bukan,..

saifulrohman1.files.wordpress.com

Cak Nun, salah seorang penyair dan budayawan pernah menyatakan dalam pengajiannya. Media sosial itu dapat membuat orang menjadi pengecut, lari dari tanggung jawab. Bagaimana tidak, orang bebas berbicara dan bereksperesi tanpa harus memikirkan tanggung jawabnya. Kadang orang terlihat cerewet di media sosial, padahal di kehidupan sungguhan pendiam. “Pada zaman kerajaan majapahit, semakin tinggi pangkat orang maka senjatanya makin pendek. Taruhlah prajurit Majapahit senjatanya tombak panjang, sedang para raja dan panglimanya berenjata pamungkas keris,”ujarnya suatu ketika jika saya tak salah ingat.

Baca juga:
Puasa Ramadhan dan Menutup Warung Makan
Buat Apa Kuliah Kalau Ujung-ujungnya Kerja?

Dibalik dampak-dampak negatif yang dilatarbelakangi medsos, tak sedikit pula ruang-ruang positif yang bisa dinikmati oleh netizen dan pengguna media sosial. Mulai dari membangun komunikasi dengan keluarga atau teman yang jauh, masuk pada komunitas yang kita gemari di dunia maya, tempat mencari hiburan, hingga menjalin relasi untuk kepentingan bisnis ataupun yang lainnya. Memang kedewasaan pengguna, sangat berpengaruh pada bijaknya penggunaan medsos. 

Sampai di sini, etika bersosial media mutlak diperlukan. Apalagi pengguna medsos tidak hanya orang-orang dewasa saja, melainkan remaja dan anak-anak yang masih sangat butuh pendampingan. Menurut saya hampir tak ada bedanya etika di dunia nyata mapun di dunia nyata. Etika yang berlaku di dunia nyata harusnya pun berlaku di dunia nyata. Semisal kalau di kehidupan sehari-hari kita tidak boleh mencuri, menghina, mencari kesalahan orang, memfitnah dan sebagainya, berarti itu pula belaku di dunia maya.


Maka, setelah memahami etika bersosial media, hendaknya para pengguna medsos juga cakap dalam bermedia sosial. Artinya, selain beretika pengguna medsos tetap harus mengerti situasi kondisi dan berhati-hati dalam bermedia sosial. Sebab, sama halnya kehidupan nyata, di dunia maya juga rentan terjadi tindak kejahatan dan tindakakan tak patut yang merugikan orang lain. Berikut akan saya bagikan tips-tips agar aman bermedsos:

1)  Usahakan jangan samapai memasang nama dan profile lengkap. Karena ini bisa dijadikan celah tindak kejahatan.

2)  Tidak sembarang memasang foto dan video pribadi di medsos.

3)  Berhati-hati dalam mengekspresikan perasaan, karena bisa saja orang tidak nyaman atau risi atas hal demikian.

4)  Mengecek kebenaran yang diterima lewat internet. Jangan mudah men-share berita tanpa klarifikasi atau tabayun dulu. Bisa saja berita itu hoax, tidak valid atau bahkan mengandung profokasi perselisihan.

5)  Jangan mengklik link atau konten yang tidak jelas. Mungkin sekali itu berisi malware, spam, trojan atau phising.

6)  Jangan mengakses konten atau situs-situs terlarang, seperti  situs  pornografi. Karena jika itu terjadi, data kamu akan tersimpan di server sebagai pengakses situs tadi. Ini disebut BIG DATA

    Demikianlah uraian cakap bermedia sosial. Semoga membantu kawan-kawan dalam bermedia sosial. Aamiin.


      Baca juga: 
      Emansipasi wanita, Emansipasi yang Seperti Apa? 



Sumber gambar sampul: hasanmuhamad.wordpress.com






Monday, 9 May 2016

Belajar Memanusiakan Manusia dengan Teori Pembelajaran Holistik


Inspirasi Kita.com - Baik Gaes. Pada postingan kali ini saya akan memosting lagi matei kuliah yang diampaikan dosen saya mengenai Ilmu Pendidikan. Lagi-lagi saya ulangi Gaes I’tikad saya. Jika belajar tak harus dari sekolah formal. Maka berawal dari sini saya ingin berbagi dengan kawan-kawan semua.

Pernahkah kamu dengar bahkan tahu tentang Teori Pembelajaran Holistik? Oke tak usah berlama-lama. Akan saya bahas dengan sederhana saja maknadari holistic yakni menyeluruh. Kaitannya dengan belajar holistik, berarti untuk mengembangkan potensi peserta didik secara menyeluruh untuk mencapai level tertentu.

Misal begini Gaes. Setiap peserta manusia mempunyai kemampuannya masing-masing. Baik itu aspek, fisik, emosional, kognitif(intelektual), sosial, estetika( seni) dan spiritual. Jadi tujuannya yaitu untuk menumbuhkembangkan dan menjadikan manusia benar-benar manusia (manusia seutuhnya).  Lha setelah potensi tadi terkelola dengan baik  diharapkan dapat bermanfaat dan interkonektif bagi personal orang tadi, lalu bermanfaat ke level komunitas (keluarga, teman-teman), kemudian sosial(umat manusia), naik lagi ke level  planetial (lingkungan alam), bahkan diharapkan bisa bermanfaat ke level komik (semesta raya).


islami.co

Kalau kita melihat kenyataan langsung Gaes di dunia nyata. Khususnya di Indonesia, banyak orang yang pintar(intelktualnya tinggi) tapi korupsi atau skillnya bagus malah suka berantem. Yaitu tadi karena mereka hanya memfokuskan sebagian saja dari potensi-potensi yang ada pada diri mereka sendiri. Tidak belajar holistik.

Pada akhirnya di dunia ini saling terkait gaes. Semisal begini, terjadi kesenjangan antara rakyat bodoh dan miskin (belum mengembangkan potensinya) dengan pintar dan kaya (saya ibaratan ini sudah mengembangkan potensinya). Jika jarak kesenjangan si Miskin dan si Kaya terlau jauh, maka produktivitas suatu masyrakat akan buruk. Itu sebabnya meski negara Indonesia banyak pengusaha, konglomerat tapi tragedi kemanusian sering terjadi. Karena kesenjangan, anatara si Miskin dan si Kaya. Ini contoh Gaes. Masih banyak kasus sebenarnaya :)

Saya ibaratkan lagi begini Gaes. Anda seorang pendidik yang baik, anti korupsi,  jujur amanah dan berkualitas di tempat lain ada Si A pendidik yang bermental korup, khianat dan tak displin. Di sisi lain Anda mengajarkan anti korupsi kepada orang, di sisi lain ada orang yang mengajari untuk korupsi. Kalo disederhanakan orang anti korupsi  berjalan, di sisi lain bajingan yang korupsi tambah banyak. Berbeda jika kesenjangan itu tipis.

Saya simpulkan lagi Gaes. Pembelajaran Holistik itu didasaran pada premis bahwa setiap individu mempunyai potensi untuk menemukan jati diri, makna dan tujuan hdup yang sejati. Dengan premis tersebut, pembelajaran holistik berusaha membangkitkan dan membangun semaksimal mungkin seluruh potensi yang dimiliki individu secara intrinsik, utuh dan seimbang mencakup spiritual, moral, imajinasi, intelektual, budaya estetika, emosi dan fisik yang semuanya diarahkan pada kesadaran tentang hubungannya dengan sesama manusia, alam dan Tuhan yang merupakan sumber dan tujuan akhir semua kehidupan. :D

Namun selain banyak manfaat dai Teori Pembelajaran Holstik, trdapat juga kelemahannya, Gaes. Di holistic orang harus belajar keseluruhan. Otomatis ada potensi tertentu yang kurang tajam dan special. Hehe kalau itu mah, yang lebih tahu Gaes untuk segera berbenah diri.


Hehe sebenernya saya juga merinding Gaes, nulis Teori pembelajaran kayak gini. Belum tentu yang nulis ini juga udah ngerjainnya. Tapi mau gimana lagi Gaes, niatnya untuk sharing kok. Dari apa yang saya dapat di kuliahan, kan gak harus sekolah buat dapat ilmu .


Sumber gambar sampul: www.satumedia.net






Tuesday, 3 May 2016

Salah Jurusan atau Tersesat di Jalan yang Benar?

Inspirasi Kita.com - Bagimu yang sedang galau karena salah memilih jurusan saat masuk kuliah. Udah terlanjur keterima dan bayar atau bahkan sudah menjalani beberapa langkah mungkin. Mau pindah, mikir biaya lagi, mau maksain, rasanya kayak beli Anggur Merah tapi rasanya Cermai, asam-asam gimana gitu :). Tenang gaes, kamu gak sendirian ehehe. 

Saya adalah salah satu dari sekian mahsiswa yang mengalami salah jurusan. Ketika masa-masa pendaftaran kuliah, saya mendaftar di berbagai  jurusan di universitas berbeda. Mulai dari Pertanian, Teknik Industri dan Teknik Informatika. Karena dulu semasa SMA cenderung suka pelajaran IPA. Namun realita berkata lain. Justru saya malah diterima di salah satu Universitas Islam Negeri di Yogyakarta dengan jurusan yang sungguh asing bagi saya, Pendidikan Bahasa Arab (PBA).

Di semester awal, saya sebenarnya masih bisa beradaptasi dengan pelajaran perkuliahan, karena pelajarannya belum mengarah pada jurusan bahasa Arab. Tapi setelah masuk pada semester dua, materi kuliahnya sudah mengarah kepada Bahasa Arab, seperti nahwu dan shorof (gramatika bahasa Arab). Di sinilah permasalahannya mulai muncul. Meskipun dulu ada pelajaranbahasa Arab di SMA , tapi ketertarikanku pada bahasa Arab tidak bisa mengalahkan dunia eksakta. Sempat waktu itu, saya  berpikir untuk pindah kampus.

www.pintarnulis.com

Sekarang saya sudah memasuki pertengahan semester dua. Saya mulai sadar jika terus –menerus menyesal tidak akan mendatangkan solusi. Akhirnya beberapa minggu yang lalu, saya dan teman-teman saya yang mempunyai satu visi membentuk komunitas belajar bahasa Arab. Kami kumpul  dua kali dalam seminggu, yakni hari Jumat dan Minggu. Di dalamnya kami belajar dan berdiskusi  mengenai seluk-beluk bahasa Arab, termasuk tata bahasanya. Tentunya dipantik oleh seorang teman yang lebih pandai dan berpengalaman

Hasilnya  mulai terasa. Meskipun saya tetap belum bisa memahami bahasa Arab, minimal seperti teman-teman lain yang kebanyakan dari pondok pesantren. Setidaknya rasa percaya pada diri saya mulai tumbuh. Motivasi dan pola pikir saya berubah. Belajar bahasa Arab sama saja mempelajari bahasa internasional lainnya, bahasa Inggris, bahas Arab dan bahasa Mandarin dan sebagainya. Saya mulai berpikir jika saya terseseat di jalan yang benar.

Sampai detik ini pun saya masih kuliah di jurusan dan universitas yang sama gaes. Agar tubuh lebih berkeringat, alangkah baiknya juga kalau menyibukkan diri dengan kegiatan di kampus, UKM dan ikut organisasi mungkin. Yang terpenting apapun itu, jangan pernah berhenti belajar gaes.



Sumber Gambar sampul: kebumenmuda.com

            

Friday, 29 April 2016

Buat Apa Kuliah Kalau Ujung-ujungnya Kerja?

Inspirasi Kita.com - Kuliah merupakan proses pendidikan tertinggi dalam jenjang pendidikan formal. Ibarat agama  Islam, kuliah hampir peliknya seperti rukun Islam yang ke lima, yakni haji. Karena kuliah urutan jenjang  pendidikan  Paud-TK-SD-SMP-SMA-PT. Kebanyakan bagi yang mampu baik secara fisik maupun pskologis. Dari sini maka akan muncul sebuah pertanyaan, bagaimanakah bila tidak mampu? Maksud saya yang tidak mampu secara finansial. Padahal sarjana ikut menyumbang angka pengangguran yang cukup besar. Jadi mengapa harus kuliah?

Secara  historis, sebenarnya ada sedikit pergeseran makna mengenai tujuan kuliah. Kalau dulu kuliah benar-benar untuk menimba ilmu sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Sekarang cenderung mengalami pendangkalan makna. Kuliah menjadi cara pragmatis untuk mendapatkan pekerjaan kelak di masa depan. Saya pernah mengikuti diskusi temanya “Tragedi 65”, kebetulan salah satu narasumbernya adalalah mahasiswa yang dulu kuliah di luar negeri saat orde lama berkuasa. Namun pada masa orde baru warga kenegaraan Indonesianya diputus begitu saja oleh pemerintah. Narasumber yang saya lupa namanya pernah membuat pernyataan begini “Padahal kami benar-benar mencari ilmu di luar negeri dan mengabdikan diri kepada bangsa suatu saat.”

journal.sociolla.com

Apabila kita sadar sepenuhnya, poses perkuliahan akan mengantar kita pada titik terang. Asalkan kita mau tahu dan mau bertindak ke perubahan. Pola ajar akademik misalnya, mengajak kita untuk mandiri. Mahasiswa dituntut untuk aktif dalam mengikuti perkuliahan. Istilahnya tidak lagi didulang (pedagogi) kayak di SMA. Itu contoh perubahan pola pikir yang sederhana. Hingga berlanjut pada masalah yang lebih besar. Sebagai kaum intelekual maka dalam menyelesaikan masalah harus tidak lagi seperti anak SD. Semuanya dipertimbangkan masak-masak melalui akal sehat.

Selain pola pikir, bakat dan skill pun tersalurkan. Sebab dalam perguruan tinggi fasilitas sangat memadai. Di sisi lain secara sosial kita mau tidak mau harus belajar memahami dan menyikapi teman-teman yang sangat heterogen. Di bangku universitas  kita mulai mengenal keragaman dunia luar yang sangat kompleks. Entah itu manusianya atau linngkungannya. Yang jelas unsur baru dan berbeda ketika di SMA/MA.Belum lagi ketika ikut organsasi. Persaudaraan bertambah dan wawasan pun terbuka. Bukanah silaturahim mendatangkan rizki?

Pendidikan formal seperti kuliah adalah bagian dari pendidikan. Dalam rangka usaha untuk memanusiakan manusia memang tidak harus melalui pendidikan formal formal.  Di manapun kita bisa terdidik. Namun ada satu hal dalam keilmuan yang membedakan kuliah dengan tidak menurut filsafat ilmu. Secara ilmiah ada pertangungjawaban yang jelas dan arah keilmuan yang pasti. "Orang yang tidak kuliah saja bisa sukses apalagi yang kuliah." hahaha sebenarnya saya lebih cocok dengan konsep, belajar bukan untuk kesuksesan namun kesempurnaan. :)

www.inovasee.com

Sewaktu semester satu saya pernah bertanya pada dosen Pendidikan Studi Islam (PSI)) Bapak Rajasa. Begini unyi pertanyaan saya waktu itu. “Apakah pendidikan harus di bangku formal, Pak? Dan seberapa penting dia, nyatanya banyak tokoh yang sukses tidak sampe lulus mengenyam pendidikan formal.” Yang saya maksud pendidikan formal adalah jenjang kuliah. Pikiran dangkal semester saya menyatakan ilmu dalam kuliah tak berguna bagi kehidupan sehari-hari.

Waktu itu beliau tidak lngsung menjawab. Mungkin saja beliau ingin menggunakan bahasa yang pas untuk mahasiswa semester satunya. Dan ini jawaban beliau.”Sebenarnya pendidikan tidak terbatas sekat tembok-tembok begini (ruang kelas). Kapanpun dan di manapun kamu bisa belajar. Namun ingat bagaimana negerimu ini. Selama kamu masih merasa perlu dengan selembar kertas itu (ijazah). Maka ikutilah aturan main yang ada."


Sumber gambar sampul: mahasiswawanita.blogspot.co.id

Thursday, 10 March 2016

Emansipasi Wanita, Emansipasi yang Bagaimana?




Inspirasi Kita.com - Emansipasi wanita adalah sebuah wacana baru sejak abad 20. Di mana antara laki-laki dan wanita mempunyai persamaan hak. Kalau zaman dulu misalnya, wanita hanya berkutat di rumah, macak, manak dan masak. Pada kenyataannya, justru emansipasi wanita malah kebablasan. layaknya HAM, emansipasi malah menjadi kedok wanita untuk semakin memberontak kepada kaum laki-laki. 

Sebenarnya ada hal yang rancu saat kita membahas emansipasi, namun belum tegas meperjelas bagaimana wanita itu sendiri dan posisinya. Jika yang dimaksud adalah kesetaraan wanita seperti halnya laki-laki. Apa yang dilkakukan laki-laki berarti wanita pun boeleh. Laki-laki aktif dalam berbagai bidang kehidupan. Semisal politik, ekonomi, budaya, pemerintahan dan bidang lainnya yang familiar dengan laki-laki.


serambiminang.com

Jelas wanita mempunyai banyak aspek yang berbeda dari laki-laki. Fisik laki-laki tentunya berbeda dengan wanita bahkan wanita cenderung lebih menggunakan perasaan ketika merespon sesuatu. Berbeda halnya dengan laki-laki yang cenderung berpikir logis dalam menyikapi sesuatu. Tentu dari sini kita seharusnya sudah mulai menarik antitesa awal bahwa kodrat antara laki-laki dan wanita memang sudah berbeda.

Tentu saja budaya patriarki yang memandang perempuan sebagai objek dan selalu lebih rendah dari laki-laki tidak dapat dibenarkan. Karena bagaimanapun itu manusia tetaplah manusia. Ia terlahir ke dunia bukanlah begitu saja. Melainkan ada alasan yang melatar belakanginya.

Kalau dalam agama Islam sudah memaparkan wanita adalah makhluk anggun yang harus dihormati dan dilindungi. Sudah secara alami jika wanita mempunyai perbedaan dengan laki-laki. Bukan karena perbedaannya itu yang membuatnya lemah. Sebaliknya itu adalah kelebihan. Justru mereka laki-laki dan wanita adalah patner satu dengan lainnya. Harusnya sebagai mkhluk peradaban mau berdialog dan berdiskusi guna mengisi peran masing-masing dan saling melengkapi

Semoga bermanfaat ya gaes,...


Sumber gambar sampul: www.vemale.com