Puisi tentang Hujan, Rindu dan Cinta


Puisi tentang Hujan, Rindu dan Cinta - Puisi tentang hujan ini kutulis saat hujan turun. Hujan tumpah ke bumi begitu saja, dan orang-orang masih bergumul dengan aktivitasnya masing-masing. Hujan kali ini mengingatkanku pada seseorang dalam kenangan. Seorang yang tertulis dalam tinta masa lalu , namun  masih juga basah hingga kini. Seseorang yang jauh tak tersentuh sekalipun kita berada pada langit yang sama, bumi yang satu. Ia selalu nampak bersama bulir-bulir hujan yang deras  dan menghujam bumi. 


Sumber Gambar: http://artidarimimpi.com






Terjebak hujan 


Di bangku ini,
Aku duduk berteman rinai hujan
Menatap langit putih,
Mengurai waktu detik demi detik,
Sembari mendengarkan aliran air sungai Gajah Wong,
Kendaraan tiada jenuh berlalu-lalang,
Seperti tak mau tahu hujan,
Satu dua kali pedagang makanan berlalu
Tiga dan empat,
Orang-orang gegas berjalan terhunjam hujan,
Aku masih duduk di sini
Setia mendengar gemericik aliran air sungai,
Menghayati tiap tetes hujan yang tumpah,
Bersabar menatapmu
Menjabat erat tanganmu
Dan menti alun nada sendu
Dadaku berdegup kencang
Semakin kencang,
Tak peduli asap kendaraan di jalan
Napasku mulai sesak,
Aku mulai lunglai,
Tak mampu membendung kerinduan ini,
Aku pandang ke deppan,
Kendaraan masih sibuk berlalu-lalang
Ternyata hari masih siang,
Rinduku masih bergelayut,
Aku terjebak hujan siang ini,
Sayang,
 kau tak di sini,
Jogja, 24 September 2016

Hujan Belum Kunjung Reda


Hujan siang ini belum juga reda,
Rerintiknya sambung-menyamung,
Bak  rangkaian gerbong kereta,
Ah, kendaraan lalu-lalang itu seperti orang buta,
Tak mau hirau akan hujan
Ah, semua seolah menertawakanku
Yang masih saja menghiraukannya
Dia yang tak pernah melihatmu,
Menatapmu,
Atau menyentuhmu, 
aku.
Kau yang coba bernyanyi,
Dia berlalu pergi,
Kau yang suguhkan secangkir kopi,
Dia minta capucino,
Kau beriakan malammu,
Dia malah asyik mamandang orang tanpa kau tahu,
Dia memang menyukai pertemanann ini,
Berbunga-bunga bermimpi masa.
Senyatanya,
Itu hanya drama saja
Ah, hujan mulai berhenti,
Aku harus berkemas
Merapihkan baju,
Memakai alasku kembali
Aku lanjutkan menyambung sepuluh detik ke depan,
Menatap ramainya jalan,
Meski tanpa dia
Dia yang tak pernah menjadi kamu,
Menganggapmu taka da,
Aku harus berjalan sekarang
Meski kakiku terasa berat,
Apalagi hatiku,
Terus berjalan,
Menuju arah sore ini.
Jogja, 24 September 2016

Semangat gaes menghadapi musim hujan. Hujan merupakan salah satu musim di negeri ini. Perlu kamu tahu? Musim hujan merupakan momen saat membahagiakan bagi para petani. Hehe jadi, percayalah hujan tak seburuk yang sering kau perkirakan itu. 





Newest
Previous
Next Post »