Surat Cinta untukmu Cinta, Aku Mencintaimu dalam Cinta

An, aku wanita tak mungkin memulai.

Surat Cinta untukmu Cinta, Aku mencintaimu dalam Cinta - Aku akan menceritakan kegundahan ini pada daun yang melambai karena diterpa angin atau gelap malam yang kian pekat. Ya, ini hanya ocehan nuraniku belaka. Dan untuk menegaskan aku nggak munafik. ya kata para ustadz di televisi kan Ramadhan, bulan yang baik untuk merenung dan instropeksi diri. Apalagi mengutarakan kejujuran. Ya jujur aku sebel lihat mukamu itu, An.

Tapi aku ingin menulis surat cinta untukmu cinta, karena aku mencintaimu dalam cinta.

Belum lenyap dalam memoriku. Ketika kita berjumpa lima tahun yang lalu. Dan kau penasaran menguntit apapun semua tentangku dari orang-orang terdekatku. Ah, aku juga masih ingat saat kau dengan kepolosanmu waktu itu menawarkan bantuan demi menyenangkaku memeroleh komik Conan serial terbaru. Ya, aku jelas paham, kau akan bekerja sungguh-sungguh layaknya suami menafkahi istri. Aku serius, An.. Kenapa kau malah seperti bercanda?



Sumber Gambar: http://senoaji.mywapblog.com



Aku akan  menulis surat cinta untukmu cinta, karena aku mencintaimu dalam cinta.

Pikirmu aku lupa, kalau kau membuatku malu akan ketololanmu itu. Terlalu menggebu mencari celah mendekatiku, hingga aku jadi bahan sasaran guyonan dan olok-olok. Aku sebenarnya risih sekali. Tapi mau bagaimana lagi. Waktu itu aku  tak tertarik untuk dekat dengan seorang cowok. Kuakui dengan segala kecupuanmu itu, kau pemberani, kau nekat menerjang dinding-dinding tebal menujuku. Aku bergidik bagaimana cowok cupu nan pemalu seperti kau mendekatiku. Bila kau tahu aku mengatai sifat pemalumu itu, pasti kau akan mengelak lewat puisi-puisi dan cerita-cerita galau murahanmu itu, An. Ya, dasar orang-orang sunyi. Dan pada akhirnya pun kita jadi bahan perolokan orang-orag. Kau Si Punguk dan aku bulannya. Cowok pego, mana ada pula melihat bulan kok di awal-awal bulan Ramadhan. Mau pinjem teropongnya kemenag?

Mengapa kau tak kunjung sadar, setiap kau berkirim SMS hanya aku balas dengan dua atau tiga patah kata saja. Apa yang ada dalam otakmu, harusnya kau sadar kau tak pantas untukku. Ya, mengapa tidak. Kehadiranmu hanya merusak nuansa romantika antara aku dan seorang laki-laki (seniorku) dan tentu ia sangat amat jauh lebih tampan darimu, lebih pandai dari otakmu dan tentunya sikapnya lebih manis darimu. Oh, kau memang bebal, An. Makan apa kau, hingga membaca hal seperti itu aja tak becus. Entah, otakmu itu sudah memar atau gimana. Sumpah,

 Setelah seniorku itu lulus, kau masih mencari gara-gara denganku. Tak adakah kaca di rumahmu, aku gadis manis, cantik cukup pandai. Sedang kau? Kau tak boleh mendekatiku. Jangankan mendekat memandangku itu adalah dosa. MUI saja berfatwa bahwa jilbab dan makanan harus ada label syar'i. Lha itu mukamu, jangankan syar'i, dipandang aja bikin mules, An.

Tapi aku ingin menulis surat cinta untukmu cinta, karena aku mencintaimu dalam cinta.

Hey, kau benar-benar sudah gila, An. Buat apa coba kau berkirim surat kepadaku ketika itu, basa-basi tanya kabar dan diriku. Tidak penting!! Aku sengaja tak membalasnya. Ah, buat apa coba. Lha dalah, setelah itu makin parah lagi, kau kirim  puisi hingga berkali-kali . Ediaan pancen kamu itu, An. Sudah wheng otakmu. Tapi lumayan juga itu sih puisimu hehe. Sampai hari ini belum kubuang sih. Eh itu bukan berarti dulu aku mau melirikmu ya. Najis!!

Kadang (waktu itu) aku juga melas e sama kamu. Sudah beberapa tahun kau semangat mendekatiku meski sudah aku pasang jarak, kayak jalan pantura, antara lajur kiri dan kanan sudah dikasih trotoar pemisah. Cukup salut si dengan perjuanganmu. Tapi maaf, sejak seniorku lulus itu aku sudah ada laki-laki yang pas untukku. Dan tentunya tampan, pandai dan manis. Iya tidak seperti kamu, hitam kriting dan gemuk. Sudah kubilang sejak dulu jangan ngarep deh. Meskipun aku juga tak pernah menkjadi kekasihnya.Tapi aku menyukainya. Kamu sih, super pekok, Hufft. Aku sangsi dengan caramu mendekatiku. kayak sales kompor. Menggebu-gebu.

Aku akan menulis surat cinta untukmu cinta, karena aku mencintaimu dalam cinta.

Sekarang, sejak pertemuan bebarapa minggu yang lalu itu. Aku mulai sedikit sadar. Iya, sadar ternyata kau tak seburuk yang dituduhkan perasaanku dulu. Setelah bertahun-tahun tak melihatmu banyak perbedaan yang membuatmu anggun, An. Kau sekarang tambah langsing,t atapanmu pun cukup manis. Walau pun rambutmu tetap kriting bahkan kulitmu lebih hitam. Tapi jujur, An. Beberapa hari ini  hati berdesir bila mengingatnya, aku masih mengingat tatapanmu itu. Aku juga mulai terhibur ketika di sampingmu. Ingat yee jangan ke Ge eR an. Ya, kali ini kau tampak lebih manis, pun karena juga karena laki-laki yang dulu dekat denganku itu sudah memacari orang lain sih. Aku kecewa banget waktu itu. Sudah dua kali aku tertipu. Kembali ke kau, An. Mungkin sekarang kau nampak manis, karena mereka-mereka itu sudah menaruh racun di hati ini. Bejijat,  Hufft.

An, aku wanita tak mungkin untuk memulai. Jika dulu adalah perasaan monyet. Aku rasa, kali ini monyet itu telah berkembang menjadi gorilla. Sekarang, terserah kau. Kau mau masuk ke dalam celah yang coba kau buat lima tahun yang lalu itu atau tidak. Itu pilihanmu. Entah, cepatlah merasuk ke sini sebelum lubang kecil itu benar-benar tertutup. Bila kau benar-benar serius pada salah satu suratmu dulu itu, ada kalimatmu yang jika ku tak salah ingat "Cintaku kepadamu bagai lumpur-lumpur yang kulemparkan ke tembok. Meskipun lumpur tak akan mampu merobohkannya, setidaknya dia membekas."  Dan sekarang kau tahu? Lumpur-lumpur cintamu itu benar-benar membekas di hati ini. Cepatlah atau tidak sama sekali. Aku merindukanmu.

An, aku wanita tak mungkin memulai

Renunganku, 2 Romadhon 1437 H.

Jane,
Previous
Next Post »

2 komentar

Click here for komentar
Bayu Nova
admin
7 June 2016 at 08:17 ×

salam kenal gan dari bayunova28.blogspot.com

Reply
avatar
9 June 2016 at 08:50 ×

Cuk, lumayan tulisanmu. Cukup mengalir dibanding artikel sebelumnya..
Curiga klo ini pengalaman pribadi. Semoga lekas sembuh dari kejombloanmu. Salam dari blog sebelah binsiman.blogspot.com

Reply
avatar